I Don't Love You
What should I say?
From where to how?
Kata orang, jika kau mencintai seseorang bahkan hanya dengan mendengar deru kendaraannya saja pun akan membuat hatimu berdebar.
Seperti biasa, setiap sabtu malam, ia akan mengajakku pergi berkencan atau sekedar makan malam. Seperti biasa, aku dengan mudahnya menyetujuinya.
"Sudah siap?." Tanyanya Iembut.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Baiklah, ayo berangkat." Ajaknya. Aku mengikutinya dari belakang.
Beberapa detik kemudian, ia tiba-tiba berbalik menghadapku. "Ohya apa aku sudah mengatakan hal ini?."
"Apa?." Tanyaku bingung.
"Kau sungguh cantik malam ini."
Aku mau tak mau tersenyum lebar mendengar perkataannya lalu mengalihkan pembicaraan. "Ayo, kita akan terlambat."
Ia ikut tersenyum lebar tanpa menyadari bahwa senyumanku sudah pudar dari bibirku.
Sebenarnya, aku sungguh ingin mengakhirinya malam ini juga.
Namun aku sungguh tak tahu harus berkata apa
Mulai darimana dan bagaimana agar ia mengerti.
I drop my head
And you look at me
In that awkward silence
"Seperti biasanya kan?."
"Huh?." Jawabku.
"Pesananmu yang seperti biasanya kan?."
"Oh... ya..." Jawabku pelan.
Ia selalu ingat menu apa yang selalu ku pesan. Menu apa yang tidak pernah ku pesan. Jam berapa aku tidur. Ia bahkan ingat hal pertama yang kulakukan saat bangun tidur.
"Kenapa kau menunduk terus? Apakah makanannya tidak enak?."
Sontak aku menengadahkan kepalaku dan menggeleng pelan seraya tersenyum lebar. "Tidak. Ini enak seperti biasanya."
"Syukurlah." Ujarnya sambil menatapku yang kembali menunduk di tengah kesunyian itu dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
I don't love you
I'm sure you already know
Perhatianku tiba-tiba tersita pada suara bising yang terdengar tak jauh dari meja kami.
Aku menoleh dan mendapati sepasang kekasih sedang terlibat dalam friksi yang tak akan pernah kuketahui apa penyebabnya.
Entah kenapa aku malah merasa iri melihat pertengkaran mereka yang bahkan seperti anak kecil.
"Pasangan yang tidak tahu malu. Bertengkar di tempat umum."
Aku lantas mengalihkan perhatianku dari pasangan kekasih itu sesaat aku mendengar celetukkannya.
"Harusnya mereka mencontoh kita, bukan? Kita jarang bertengkar.. Oh! Tidak pernah malahan. Aku benar bukan?." Tuturnya bangga sambil tersenyum lebar.
Aku menyeringai mendengar penuturannya, lantas membalasnya. "Itu karena kita tidak seperti pasangan pada umumnya. Aku benar, bukan?.
Ia hanya tersenyum kecil sambil mengangguk pelan lalu memilih melanjutkan menghabiskan makanannya dengan tenang.
Seperti yang kukatakan, kami memang tidak seperti pasangan pada umumnya.
Itu karena aku tak merasakan apapun.
Aku yakin ia pun sudah tahu akan hal itu.
Even if you cry
My heart doesn't hurt
Aku baru saja kembali dari kamar kecil dan melihatnya dari jauh sedang merapikan rambutnya yang sedikit berantakan lalu beralih merapikan kemejanya.
Aku hanya tersenyum miris menatapnya. Ia lalu menemukanku sedang berdiri memperhatikannya dari kejauhan kemudian tersipu malu.
Ia memberikan sinyal padaku untuk segera mendatanginya. Aku berjalan berat menujunya.
"Aku lupa memberikan ini padamu." Ujarnya setelah aku mendaratkan tubuhku di kursi. Ia mengeluarkan sebuket bunga.
Aku sedikit terkejut mendapati sebuket bunga lilac ditangannya. Dari mana ia tahu aku suka bunga ini?. Aku yakin aku tak pernah memberi tahunya tentang ini. Pasalnya bunga ini mengingatkanku pada mendiang kakakku. Bunga ini juga favoritnya.
"Kau tahu dari mana aku menyukai bunga ini?."
"Ajaib bukan? Aku selalu tahu apa yang kau mau." Ia berseloroh.
Jujur, aku tak terpukau sama sekali dengan selorohannya.
Ia bilang, ia tahu apa yang kumau. Tapi ia tidak memahami perasaanku sesungguhnya.
Aku sungguh tidak tahan lagi. Aku sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri ini semua. Entah bagaimana reaksinya nanti aku tidak akan peduli.
Mungkin aku akan terdengar jahat tapi hatiku pun tak akan sakit biarpun ia menangis meraung di depanku. Sungguh.
I don't love you
There's no other reason
I don't want to say the words
'I'm sorry' or 'forgive me'
Sisa makan malam kami dihabiskan dengan mendengarkan ceritanya selama seminggu ini.
Aku hanya membalas atau sekedar menggangguk sekenanya sambil terus menundukkan kepalaku.
Ia memerhatikanku yang nampak tidak antusias. Ia pun perlahan berubah gusar. "Hey, kau ini kenapa?."
Aku tidak menjawab langsung. Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. Ia pun berdiri menanti penjelasan yang kutahu sebenarnya pun sudah ia dapatkan dari jauh-jauh hari.
"Katakan padaku yang ada dalam pikiranmu?."
Aku tak mencintaimu.
Itu yang ingin aku katakan. Tapi ku tahan. Setidaknya aku tak ingin mengatakannya di tempat ramai seperti disini.
"Aku tak bisa mengatakannya disini. Terlalu banyak orang. Mari kita pulang dahulu."
That's just all
This is how I feel
I don't love you
I don't love you
Kemudian tanpa diminta ia menggenggam tanganku. Refleks, aku melepaskannya perlahan.
"Kenapa?."
Aku menggeleng. "Hanya saja tidak nyaman berpegangan tangan di depan umum."
Ia maklum lalu berjalan mendahuluiku.
Tentu saja bukan itu alasan utama aku menolak genggaman tangannya. Aku hanya sudah malas mengikuti egonya itu.
Rasanya ingin kuteriakan sekencang-kencangnya.
"Aku tidak mencintaimu."
"Aku tidak mencintaimu."
I don't love you
I'm sure you already know
"Hey, yang ingin ku katakan adalah..."
"Ya, katakan saja. Ada apa?."
"Aku tidak mencintaimu." Balasku tegas. Ia menegang di posisinya. Menatapku dengan kaku seolah jantungnya ikut berhenti berdetak detik itu juga.
"Aku sudah mengatakannya sebelum ini bukan? Jadi aku yakin kau sudah tahu itu."
"Lalu...?"
Aku menatapnya tak percaya. "Aku tahu kau tidak sebodoh itu hanya untuk memahami maksud perkataanku barusan."
"Kau ingin aku bagaimana?."
"Pergilah dari hidupku."
Even if you cry
My heart doesn't hurt
Ia mulai terisak di hadapanku.
Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, melihatnya menangis seperti itu tak membuat hatiku sakit sedikitpun.
"Tidak bisakah kita..."
"Tidak." ucapku cepat memotong kalimatnya. Aku tahu ia akan memohon seperti biasanya.
"Kukira hatimu telah berubah."
"Jangan konyol. Apa kau pernah dengar aku mengatakan 'aku mencintaimu' selama ini?."
Ia tak menjawab. Hanya air matanya yang mengalir lebih deras.
"Jangan menangis!."
"Kenapa aku tidak boleh menangis ketika hatiku hancur? Apa kau takut akan merasa iba padaku dan berubah pikiran?" Ujarnya sembarangan di sela-sela tangisnya.
Aku makin tak habis pikir dengannya. "Aku tak pernah peduli padamu. Jadi, air matamu tak ada artinya untukku. Sudah cukup dengan ekspetasi liarmu."
"Aku pikir kau akan mempertimbangkanku." Ia masih terus saja berkata yang aneh-aneh.
Aku tersenyum sinis. "Ku harap kau berhenti membuat harapan semu dalam otakmu. Kau tahu aku tak pernah membalas perasaanmu."
I don't love you
There's no other reason
"Tapi kenapa? Berikan aku satu alasan yang tak pernah kau katakan."
Aku menghela napasku kuat-kuat.
"Apa kau membenciku?." Tanyanya dengan nada frustasi.
"Tidak, tidak ada alasan apapun. Aku hanya tidak mencintaimu. Itu saja." Ujarku dingin.
"Setelah semua yang sudah ku lakukan?."
"Coba ingat lagi, apa aku pernah memintamu melakukan semua ini? Sejak awal aku sudah menarik garis diantara kita. Kau saja yang terlalu buta."
Ia diam sambil mengingat-ngingat semua yang telah kami lalui.
I don't want to say the words
'I'm sorry' or 'forgive me'
That's just all
This is how I feel
Aku berjalan memunggunginya berniat meninggalkannya yang masih terdiam andai saja ia tak berteriak.
"Itu saja? Kau tak ingin meminta maaf?."
"Tentu saja tidak."
"Kau memang berhati dingin."
Aku menertawakan kenaifannya. "Untuk apa aku meminta maaf pada hal yang ku tak sukai. Apa aku salah jika tidak menyukai sesuatu?."
"Hanya itu yang ingin kau katakan?."
"Aku sungguh tak ingin membahas ini lagi. Kau sudah tau bahwa itu yang aku rasakan. Itu saja."
I don't love you
I don't love you
"Katakan lagi bahwa kau tak mencintaiku."
Aku sudah mulai gila mendengar rengekkannya "Tsk! Baiklah... Dengarkan baik-baik. Aku tak mencintaimu."
Ia terlihat sangat hancur tapi apa peduliku?. Sebaliknya, aku merasa sesak yang selama ini berada di dalam dadaku seketika menguap.
"Aku sungguh tidak mencintaimu. Ku rasa itu sudah cukup jelas."
I don't love you
There's no other reason
I don't want to say the words
'I'm sorry' or 'forgive me'
Namun ia malah menarik lenganku untuk kemudian memelukku. Ia menangis terseduh-seduh di pundakku. Air matanya membasahi pakaianku.
"Pergilah. Jangan hidup seperti ini. Cari wanita yang mencintaimu juga. Tetapi jangan pernah paksakan hatimu seperti yang kau lakukan padaku selama ini." Gumamku padanya.
That's just all
This is how I feel
I don't love you
I don't love you
Aku melepaskan pelukannya dengan cepat. Lalu tersenyum kecil sambil mengatakan,
"Aku tidak mencintaimu. Selamat tinggal."
From where to how?
Kata orang, jika kau mencintai seseorang bahkan hanya dengan mendengar deru kendaraannya saja pun akan membuat hatimu berdebar.
Seperti biasa, setiap sabtu malam, ia akan mengajakku pergi berkencan atau sekedar makan malam. Seperti biasa, aku dengan mudahnya menyetujuinya.
"Sudah siap?." Tanyanya Iembut.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Baiklah, ayo berangkat." Ajaknya. Aku mengikutinya dari belakang.
Beberapa detik kemudian, ia tiba-tiba berbalik menghadapku. "Ohya apa aku sudah mengatakan hal ini?."
"Apa?." Tanyaku bingung.
"Kau sungguh cantik malam ini."
Aku mau tak mau tersenyum lebar mendengar perkataannya lalu mengalihkan pembicaraan. "Ayo, kita akan terlambat."
Ia ikut tersenyum lebar tanpa menyadari bahwa senyumanku sudah pudar dari bibirku.
Sebenarnya, aku sungguh ingin mengakhirinya malam ini juga.
Namun aku sungguh tak tahu harus berkata apa
Mulai darimana dan bagaimana agar ia mengerti.
I drop my head
And you look at me
In that awkward silence
"Seperti biasanya kan?."
"Huh?." Jawabku.
"Pesananmu yang seperti biasanya kan?."
"Oh... ya..." Jawabku pelan.
Ia selalu ingat menu apa yang selalu ku pesan. Menu apa yang tidak pernah ku pesan. Jam berapa aku tidur. Ia bahkan ingat hal pertama yang kulakukan saat bangun tidur.
"Kenapa kau menunduk terus? Apakah makanannya tidak enak?."
Sontak aku menengadahkan kepalaku dan menggeleng pelan seraya tersenyum lebar. "Tidak. Ini enak seperti biasanya."
"Syukurlah." Ujarnya sambil menatapku yang kembali menunduk di tengah kesunyian itu dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
I don't love you
I'm sure you already know
Perhatianku tiba-tiba tersita pada suara bising yang terdengar tak jauh dari meja kami.
Aku menoleh dan mendapati sepasang kekasih sedang terlibat dalam friksi yang tak akan pernah kuketahui apa penyebabnya.
Entah kenapa aku malah merasa iri melihat pertengkaran mereka yang bahkan seperti anak kecil.
"Pasangan yang tidak tahu malu. Bertengkar di tempat umum."
Aku lantas mengalihkan perhatianku dari pasangan kekasih itu sesaat aku mendengar celetukkannya.
"Harusnya mereka mencontoh kita, bukan? Kita jarang bertengkar.. Oh! Tidak pernah malahan. Aku benar bukan?." Tuturnya bangga sambil tersenyum lebar.
Aku menyeringai mendengar penuturannya, lantas membalasnya. "Itu karena kita tidak seperti pasangan pada umumnya. Aku benar, bukan?.
Ia hanya tersenyum kecil sambil mengangguk pelan lalu memilih melanjutkan menghabiskan makanannya dengan tenang.
Seperti yang kukatakan, kami memang tidak seperti pasangan pada umumnya.
Itu karena aku tak merasakan apapun.
Aku yakin ia pun sudah tahu akan hal itu.
Even if you cry
My heart doesn't hurt
Aku baru saja kembali dari kamar kecil dan melihatnya dari jauh sedang merapikan rambutnya yang sedikit berantakan lalu beralih merapikan kemejanya.
Aku hanya tersenyum miris menatapnya. Ia lalu menemukanku sedang berdiri memperhatikannya dari kejauhan kemudian tersipu malu.
Ia memberikan sinyal padaku untuk segera mendatanginya. Aku berjalan berat menujunya.
"Aku lupa memberikan ini padamu." Ujarnya setelah aku mendaratkan tubuhku di kursi. Ia mengeluarkan sebuket bunga.
Aku sedikit terkejut mendapati sebuket bunga lilac ditangannya. Dari mana ia tahu aku suka bunga ini?. Aku yakin aku tak pernah memberi tahunya tentang ini. Pasalnya bunga ini mengingatkanku pada mendiang kakakku. Bunga ini juga favoritnya.
"Kau tahu dari mana aku menyukai bunga ini?."
"Ajaib bukan? Aku selalu tahu apa yang kau mau." Ia berseloroh.
Jujur, aku tak terpukau sama sekali dengan selorohannya.
Ia bilang, ia tahu apa yang kumau. Tapi ia tidak memahami perasaanku sesungguhnya.
Aku sungguh tidak tahan lagi. Aku sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri ini semua. Entah bagaimana reaksinya nanti aku tidak akan peduli.
Mungkin aku akan terdengar jahat tapi hatiku pun tak akan sakit biarpun ia menangis meraung di depanku. Sungguh.
I don't love you
There's no other reason
I don't want to say the words
'I'm sorry' or 'forgive me'
Sisa makan malam kami dihabiskan dengan mendengarkan ceritanya selama seminggu ini.
Aku hanya membalas atau sekedar menggangguk sekenanya sambil terus menundukkan kepalaku.
Ia memerhatikanku yang nampak tidak antusias. Ia pun perlahan berubah gusar. "Hey, kau ini kenapa?."
Aku tidak menjawab langsung. Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. Ia pun berdiri menanti penjelasan yang kutahu sebenarnya pun sudah ia dapatkan dari jauh-jauh hari.
"Katakan padaku yang ada dalam pikiranmu?."
Aku tak mencintaimu.
Itu yang ingin aku katakan. Tapi ku tahan. Setidaknya aku tak ingin mengatakannya di tempat ramai seperti disini.
"Aku tak bisa mengatakannya disini. Terlalu banyak orang. Mari kita pulang dahulu."
That's just all
This is how I feel
I don't love you
I don't love you
Kemudian tanpa diminta ia menggenggam tanganku. Refleks, aku melepaskannya perlahan.
"Kenapa?."
Aku menggeleng. "Hanya saja tidak nyaman berpegangan tangan di depan umum."
Ia maklum lalu berjalan mendahuluiku.
Tentu saja bukan itu alasan utama aku menolak genggaman tangannya. Aku hanya sudah malas mengikuti egonya itu.
Rasanya ingin kuteriakan sekencang-kencangnya.
"Aku tidak mencintaimu."
"Aku tidak mencintaimu."
I don't love you
I'm sure you already know
"Hey, yang ingin ku katakan adalah..."
"Ya, katakan saja. Ada apa?."
"Aku tidak mencintaimu." Balasku tegas. Ia menegang di posisinya. Menatapku dengan kaku seolah jantungnya ikut berhenti berdetak detik itu juga.
"Aku sudah mengatakannya sebelum ini bukan? Jadi aku yakin kau sudah tahu itu."
"Lalu...?"
Aku menatapnya tak percaya. "Aku tahu kau tidak sebodoh itu hanya untuk memahami maksud perkataanku barusan."
"Kau ingin aku bagaimana?."
"Pergilah dari hidupku."
Even if you cry
My heart doesn't hurt
Ia mulai terisak di hadapanku.
Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, melihatnya menangis seperti itu tak membuat hatiku sakit sedikitpun.
"Tidak bisakah kita..."
"Tidak." ucapku cepat memotong kalimatnya. Aku tahu ia akan memohon seperti biasanya.
"Kukira hatimu telah berubah."
"Jangan konyol. Apa kau pernah dengar aku mengatakan 'aku mencintaimu' selama ini?."
Ia tak menjawab. Hanya air matanya yang mengalir lebih deras.
"Jangan menangis!."
"Kenapa aku tidak boleh menangis ketika hatiku hancur? Apa kau takut akan merasa iba padaku dan berubah pikiran?" Ujarnya sembarangan di sela-sela tangisnya.
Aku makin tak habis pikir dengannya. "Aku tak pernah peduli padamu. Jadi, air matamu tak ada artinya untukku. Sudah cukup dengan ekspetasi liarmu."
"Aku pikir kau akan mempertimbangkanku." Ia masih terus saja berkata yang aneh-aneh.
Aku tersenyum sinis. "Ku harap kau berhenti membuat harapan semu dalam otakmu. Kau tahu aku tak pernah membalas perasaanmu."
I don't love you
There's no other reason
"Tapi kenapa? Berikan aku satu alasan yang tak pernah kau katakan."
Aku menghela napasku kuat-kuat.
"Apa kau membenciku?." Tanyanya dengan nada frustasi.
"Tidak, tidak ada alasan apapun. Aku hanya tidak mencintaimu. Itu saja." Ujarku dingin.
"Setelah semua yang sudah ku lakukan?."
"Coba ingat lagi, apa aku pernah memintamu melakukan semua ini? Sejak awal aku sudah menarik garis diantara kita. Kau saja yang terlalu buta."
Ia diam sambil mengingat-ngingat semua yang telah kami lalui.
I don't want to say the words
'I'm sorry' or 'forgive me'
That's just all
This is how I feel
Aku berjalan memunggunginya berniat meninggalkannya yang masih terdiam andai saja ia tak berteriak.
"Itu saja? Kau tak ingin meminta maaf?."
"Tentu saja tidak."
"Kau memang berhati dingin."
Aku menertawakan kenaifannya. "Untuk apa aku meminta maaf pada hal yang ku tak sukai. Apa aku salah jika tidak menyukai sesuatu?."
"Hanya itu yang ingin kau katakan?."
"Aku sungguh tak ingin membahas ini lagi. Kau sudah tau bahwa itu yang aku rasakan. Itu saja."
I don't love you
I don't love you
"Katakan lagi bahwa kau tak mencintaiku."
Aku sudah mulai gila mendengar rengekkannya "Tsk! Baiklah... Dengarkan baik-baik. Aku tak mencintaimu."
Ia terlihat sangat hancur tapi apa peduliku?. Sebaliknya, aku merasa sesak yang selama ini berada di dalam dadaku seketika menguap.
"Aku sungguh tidak mencintaimu. Ku rasa itu sudah cukup jelas."
I don't love you
There's no other reason
I don't want to say the words
'I'm sorry' or 'forgive me'
Aku kembali memutar tubuhku berusaha untuk meninggalkannya lagi yang nampaknya masih tak ingin beranjak dari tempatnya.
Namun ia malah menarik lenganku untuk kemudian memelukku. Ia menangis terseduh-seduh di pundakku. Air matanya membasahi pakaianku.
"Pergilah. Jangan hidup seperti ini. Cari wanita yang mencintaimu juga. Tetapi jangan pernah paksakan hatimu seperti yang kau lakukan padaku selama ini." Gumamku padanya.
That's just all
This is how I feel
I don't love you
I don't love you
Aku melepaskan pelukannya dengan cepat. Lalu tersenyum kecil sambil mengatakan,
"Aku tidak mencintaimu. Selamat tinggal."
Urban Zakapa- I don't love you.

Komentar
Posting Komentar